Senin, 02 Februari 2009

Mencari program CSR perusahaan

Terus terang tulisan ini terkait dengan penunjukan penulis sebagai The Ambassador of The Leprosy Mission International to Indonesia, dengan mengajak dunia usaha Indonesia untuk mengalokasikan kegiatan CSR-nya untuk berkontribusi dalam pemberantasan penyakit lepra.
Pada 25 Januari lalu adalah hari Lepra sedunia dan Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita lepra nomor tiga terbanyak di dunia, setelah India dan Brasil. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae, yang lazim berkembang di kawasan yang taraf hidup serta tingkat kesadaran kesehatan masyarakat penghuninya masih rendah.
Situasi ini diperparah dengan pengucilan dan perlakuan diskriminatif terhadap penderita lepra sehingga mereka gagal mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Perlakuan buruk terhadap penderita lepra memiliki sejarah panjang. Dalam kondisi ini, dunia usaha berpeluang untuk menunjukkan tanggung jawab sosialnya, yakni membantu pemberantasan penyakit lepra serta pemberdayaan penderitanya.
Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) telah tercantum dalam UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74 mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
Beberapa manfaat yang diperoleh perusahaan dengan melakukan kegiatan CSR di antaranya, mengurangi risiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima perusahaan, meminimalkan dampak buruk akibat krisis, meningkatkan keterlibatan dan kebanggaan karyawan, mempererat hubungan dengan para stakeholder, meningkatnya penjualan, dan tentu saja meningkatkan reputasi perusahaan. Dengan begitu kegiatan CSR harus dipastikan berjalan efektif agar manfaat tersebut dapat dipetik oleh perusahaan.
Bibit CSR pada awalnya bersemi dari motif filantropik perusahaan, yang acap bersifat spontanitas dan belum terkelola dengan baik. Adanya dorongan eksternal berupa tuntutan masyarakat, agar perusahaan lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya mengakibatkan aktivitas CSR semakin penting.
Makna CSR pun makin meluas, bukan sekadar tanggung jawab terhadap masyarakat sekitar dan hanya bersifat filantropik, melainkan juga meluas ke seluruh planet bumi, dan harus dikelola dengan sasaran yang jelas dan perencanaan yang baik di tengah-tengah masyarakat dunia yang semakin kritis.
Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan secara spontan, tetapi harus bersifat strategis. Strategis acap diartikan 'dekat' dengan bidang kegiatan perusahaan. Seperti Lifebouy yang mengampanyekan gerakan cuci tangan dengan sabun, atau Aqua yang membangun fasilitas air bersih.
Lantas, untuk kegiatan pemberantasan Lepra dan pemberdayaan penderitanya bidang bisnis apa saja yang terkait? Banyak bidang yang terkait, misalnya, farmasi (ethical maupun OTC), yang berkaitan dengan kebersihan, perawatan kesehatan, properti (terkait dengan sanitasi). Untuk pemberdayaan, misalnya, dengan menerima karyawan eks penderita lepra, sektor manufaktur dan sektor jasa dapat menampungnya.
Membangun strategi
Seperti halnya pelaksanaan aktivitas tanggung jawab sosial lainnya, dalam usaha ikut membantu pemberantasan penyakit lepra perusahaan harus mengidentifikasi stakeholder yang bakal terkena dampak dari pelaksanaan sebuah aktivitas CSR. Dalam masalah pemberantasan penyakit lepra dan pemberdayaan penderita lepra, yang paling berkepentingan tentu saja penderita dan komunitas sekitarnya.
Berikutnya adalah membangun strategi, yang menjadi roadmap bagi pelaksanaan aktivitas pemberantasan penyakit lepra. Meski di Indonesia terdapat beberapa daerah yang rentan atau bahkan telah dijangkiti lepra, tetapi perusahaan dapat menentukan jangkauan aktivitas yang dijalankan sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya.
Dalam strategi ini juga disusun secara spesifik rencana-rencana aktivitas dalam rangka pemberantasan lepra. Di antaranya adalah membangun program komunikasi yang intensif seputar penyakit lepra, seperti usaha pencegahan dan pengobatannya demi meluruskan kekeliruan persepsi serta mitos yang selama ini beredar.
Usaha lainnya dapat berupa penyediaan multi drug therapy (MDT) bagi para penderita lepra secara gratis terutama ke daerah-daerah yang rentan terhadap penyakit lepra. Berikutnya adalah memberikan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penderita dan bekas penderita lepra, terutama yang mengalami cacat fisik, demi pemberdayaan agar mereka dapat hidup mandiri. Bila memungkinkan, perusahaan dapat memberikan pekerjaan terhadap bekas penderita lepra sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Dalam partisipasinya membantu pemberantasan penyakit lepra, perusahaan hendaknya tidak hanya berorientasi jangka pendek, tetapi juga jangka panjang yang tujuan akhirnya adalah pemberdayaan, dalam arti penderita lepra mampu memecahkan setiap persoalan yang dihadapi dengan kekuatan sendiri.
Program bantuan bagi pemberantasan lepra dan pemberdayaan penderitanya tentu saja tidak akan efektif tanpa dukungan dan komitmen karyawan, terutama mereka yang langsung terlibat di dalamnya. Selain itu, perusahaan juga perlu membangun sebuah sistem di mana berbagai macam keluhan, saran, tanggapan, dan informasi dari para stakeholder yang terlibat dalam usaha membantu pemberantasan penyakit lepra dapat ditampung dan ditindaklanjuti.
Perusahaan juga harus menetapkan sasaran yang sifatnya spesifik (misalnya, daerah geografis penderita lepra yang ditangani), terukur (seperti jumlah MDT yang didistribusikan ataupun jumlah penderita yang berhasil disembuhkan tanpa mengalami cacat fisik), dapat dicapai, andal, serta berada dalam rentang waktu tertentu. Harus pula ditetapkan critical success factor (CSF), yaitu variabel yang harus dimiliki sehingga menjamin strategi yang telah ditetapkan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
Partisipasi perusahaan dalam membantu usaha pemberantasan penyakit lepra melalui perencanaan yang matang akan sangat bermanfaat dalam mengangkat reputasi serta bagi terwujudnya Indonesia yang bebas lepra. (oleh : A. B. SusantoManaging Partner The Jakarta Consulting Group).

Tidak ada komentar: